Gue gak tahu kenapa hari ini gue pengen nulis ini. Mungkin karena udah terlalu lama gue simpen. Atau mungkin, karena gak ada lagi tempat buat cerita selain halaman ini.
Ini tentang seseorang. Bukan cinta pertama, bukan juga cinta terakhir. Tapi yang paling susah gue lupain. Aneh, ya?
Sepatu Putus di Tengah Upacara
Ditulis oleh Anhass
Waktu SMA, gue pernah ngalamin hal yang menurut gue waktu itu adalah aib terbesar dalam hidup gue: tali sepatu putus di tengah upacara bendera.
Gue berdiri di barisan paskibra, barisannya paling depan, dan yang paling bikin sial: posisi gue pas banget di depan guru BP. Dari awal upacara, gue udah ngerasa aneh, kaki gue kayak gak seimbang. Tapi karena lagu Indonesia Raya udah berkumandang, gue tahan. Gak boleh goyah, gak boleh malu-maluin. Negara butuh stabilitas.
Tapi waktu hormat bendera, “tarrraaaaakkk”—tali sepatu gue copot. Gak cuma copot, bro. Putus. Lengkap dengan bunyi yang kayak efek film action murah. Satu kaki gue langsung agak miring. Gue berdiri kayak orang setengah squat. Diam, tapi geter.
Yang bikin tambah absurd, guru BP gue bisik: “Kamu kenapa? Berdiri yang tegak!” Gue jawab pelan, “Sepatu saya, Pak, udah menyerah duluan...”
Setelah upacara, gue jadi bahan tertawaan satu sekolah. Tapi di sisi lain, ada juga yang salut karena gue tetap bertahan sampai lagu selesai. Bahkan kepala sekolah bilang, “Itu baru mental baja.”
Dari situ gue belajar: Kadang dalam hidup, kita cuma perlu berdiri tegak, walaupun ‘sepatu’ kita lagi hancur-hancurnya.
Makanya sekarang, kalau hidup lagi berat, gue suka bilang ke diri sendiri, “Kalau sepatu putus aja bisa gue lewatin, masa hidup enggak?”
