Agustus tahun ini benar-benar gila. Gua menyebutnya "wah banget" karena di bulan inilah gua benar-benar diuji, terlibat dalam berbagai organisasi di kampung, dan merasakan semua jenis emosi dalam satu waktu.
Cerita dimulai di awal Agustus. Gua langsung disuguhkan dengan tantangan besar: membawa nama Kabupaten Bandung dalam lomba micro library tingkat provinsi. Ini bukan hal main-main. Micro library kita ini bahkan belum genap setahun berdiri, tapi Pak Kades sudah memasang target juara. Tekanan ini membuat kami, para pengurus, super sibuk. Ditambah lagi, ada saja dinamika internal di antara kami yang bikin kepala makin pusing. Gua yang dipercaya bisa membantu mencapai target ini benar-benar merasa hectic gila.
Di saat yang bersamaan, datang panggilan lain. Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya, gua dipercaya untuk melatih Paskibra di salah satu Madrasah Aliyah (MA) di daerah sini. Jadi, bayangkan saja, di satu sisi gua harus fokus pada lomba, di sisi lain tanggung jawab melatih sudah menanti.
Setelah urusan lomba selesai, gua bisa sedikit bernapas lega dan fokus penuh pada anak-anak Paskibra. Kami, para pelatih, memulai latihan dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, setiap hari, sampai tanggal 15 Agustus. Momen-momen melatih ini, sumpah, nggak akan pernah bisa gua lupakan. Seru banget! Muka memang jadi gosong, tapi semua itu terbayarkan lunas.
Tapi, kesibukan gua nggak berhenti di situ. Selesai melatih, sering kali malam harinya gua harus lanjut rapat sebagai Ketua Pelaksana Panitia PHBN (Peringatan Hari Besar Nasional). Energi gua benar-benar terkuras karena setiap hari harus bertemu dan berurusan dengan banyak orang. CAPEEEE BANGET, SUMPAH.
Puncaknya adalah tanggal 16 Agustus. Hari itu adalah hari pengukuhan anak-anak Paskibra yang gua latih. Gua super sibuk. Dari menyiapkan naskah MC, naskah pengukuhan, sampai naskah untuk amanat pembina. Belum lagi, gua diminta merekap keuangan iuran warga untuk acara PHBN, dan masih ada juga acara di micro library. Super duper gila. Tapi, di tengah semua kekacauan itu, momen pengukuhan terasa seperti sebuah pelepasan. Semua lelah seakan hilang. Gua nggak bisa menahan air mata saat melihat anak-anak didik gua dengan bangga memamerkan balok Paskibra di depan orang tua mereka. Wah, sumpah, terharu banget lihatnya.
Lalu tibalah hari yang paling gua tunggu-tunggu, 17 Agustus 2025. Ini adalah momen di mana anak didik gua tampil di hadapan seluruh peserta upacara. Bagi gua, ini adalah puncak sekaligus akhir dari perjuangan kami. Momen ini sangat mengharukan, karena setelah ini, kami semua akan kembali ke kehidupan masing-masing. Bukan hanya dengan anak didik, tapi juga dengan sesama pelatih. Momen melatih bareng ini mungkin nggak akan terulang lagi dalam waktu dekat.
Saat upacara berlangsung, ada satu momen yang hampir membuat gua menangis di tempat. Ketika MC dengan lantang menyebutkan nama gua, "...di bawah binaan dan asuhan...", rasanya ada yang bergetar di dalam dada. Dan untuk pasukan pengibar bendera, kalian sangat hebat. Kalian tampil dengan begitu wah dan wow. Sumpah, gua nggak bisa berkata-kata. Terima kasih untuk semua yang terlibat, kalian luar biasa.
Selesai upacara pengibaran, perjuangan gua belum berakhir. Ternyata, acara PHBN di kampung gua diadakan pada hari yang sama. Gua harus bergegas pulang, ganti pakaian, dan langsung bertugas sebagai Ketua Pelaksana. Mengatur warga ternyata jauh lebih menantang daripada mengatur anak-anak Paskibra. Tapi, alhamdulillah, acara berjalan lancar. Sore harinya, gua harus kembali untuk upacara penurunan bendera, yang lagi-lagi menjadi momen perpisahan yang membuat gua nggak bisa menahan air mata. Bahkan saat menulis ini, gua masih bisa merasakannya. Malamnya, gua masih harus lanjut menyiapkan acara untuk besok. Tanggal 17 ini benar-benar menguras segalanya.
Masuk ke tanggal 18 Agustus, hari kedua PHBN. Di sinilah gua mendapat pukulan telak. Gua hampir saja membuat kesalahan fatal yang mungkin, kalau terjadi, gua nggak akan bisa menulis blog ini. Ceritanya, gua ini orangnya memang cuek. Setelah melihat lomba bakiak bapak-bapak selesai, gua pikir ya sudah, beres. Tiba-tiba ada warga yang komplain, "Bro, hati-hati loh, itu bakiaknya ada pakunya."
Karena merasa lomba sudah usai, gua menjawab sekenanya, "Ooo, yaudah toh lombanya udah beres ini. Lagian itu bakiak juga bukan gua yang bikin."
Dia langsung membalas dengan nada tinggi, "Weh, anj***! Nggak gitu jadi panitia! Liat susunan acaranya, lomba bakiak buat ibu-ibu masih ada. Bukannya dibenerin malah nyolot lu, kon***!"
Gua nggak terlalu menggubris. Tapi beberapa saat kemudian, dia memanggil gua lagi. "Weh, anj**! Apa maksud lu tadi ngomong kayak gitu? Gua ini lebih tua dari lo, anj**! Nggak sepantasnya lo ngomong kayak gitu ke gua!"
Sumpah, Bro, gua langsung kicep. Nggak bisa ngomong apa-apa. Apa yang gua ucapkan tadi memang murni apa yang ada di otak gua saat itu, tanpa pikir panjang. Dia melanjutkan, "Kalau ini bukan kawasan gua, udah abis lu di sini!"
Gimana lagi? Gua cuma bisa minta maaf. Maaf, maaf, dan maaf, sambil meneteskan air mata. Entah dia memaafkan atau tidak, yang penting gua lolos dari ancaman itu. Akhirnya, acara berjalan lancar sampai selesai. Malamnya, saat evaluasi, kejadian itu tentu menjadi pembahasan utama.
Mungkin bagi teman-teman yang baca ini, pelajarannya jelas: TOLONG JAGA BAHASA KALIAN. Dan sekali lagi, melalui tulisan ini, gua minta maaf pada warga yang komplain waktu itu.